NIMBY, positif atau negatif ?

Dalam dunia Perencanaan, bukan hal tabu jika penolakan dari masyarakat seringkali menjadi bagian dari perjalanan sebuah pembangunan. Sebagian pihak merasa penolakan pembangunan atau perencanaan adala sebuah kendala atau masalah dan yang lain justru menyukainya atau mendukungnya.

Salah satu penyebab penolakan di masyarakat adalah NIMBY. sebuah sindrom yang banyak diteliti oleh para ahli. Dalam artikel ini penulis akan membahas tentang NIMBY. namun pembahasan kali ini akan dibatasi pada poin-poin tertentu saja.

Penolakan dalam implementasi kebijakan perencanaan wilayah dan kota adalah suatu hal yang sangat sering terjadi terutama di Indonesia. Pada banyak kasus penolakan masyarakat terhadap pemanfaatan ruang yang digagas Pemerintah Kota atau Kabupaten seringkali menjadi penghambat implementasi pembangunan. Bahkan tidak jarang penolakan masyarakat tertuju kepada pemanfaatan ruang yang digagas Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat.

Salah satu pemanfaatan ruang yang banyak menimbulkan penolakan adalah LULU. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada Bab I, LULU merupakan jenis pemanfaatan ruang atau penggunaan lahan yang sangat berkaitan dengan pokok dari penelitian ini yaitu gerakan NIMBY. Dalam pelaksanaannya gerakan NIMBY sangat erat dengan istilah LULU. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya juga pada Bab I, LULU adalah locally unwanted land use atau pemanfaatan ruang yang menciptakan biaya eksternalitas bagi mereka yang tinggal dalam jarak dekat. Biaya ini mencakup potensi bahaya kesehatan, estetika yang buruk, atau pengurangan nilai rumah. Fasilitas semacam itu dengan bahaya semacam itu perlu diciptakan untuk keuntungan lebih besar yang ditawarkan masyarakat. LULU bisa meliputi pembangkit listrik, tempat pembuangan sampah, penjara, jalan, pabrik, rumah sakit dan banyak perkembangan lainnya. (James dan Brion. 2015)

Dalam pendapat lain LULU bermakna guna lahan yang tidak diinginkan yang dibangun di sekitar tempat tinggal masyarakat lokal seperti kuburan, perusahaan pencemar lingkungan, dan lain-lain. Contoh-contoh fasilitas yang sering ditolak yaitu fasilitas nuklir, penjara, fasilitas kesehatan mental, tempat pembuangan sampah, dan insinerator. (Hank Smith. 2014)

Pengertian NIMBY
Clare Sounder (2013) dalam bukunya Environmental Networks and Social Movement Theory, Definisi Gerakan NIMBY secara universal adalah tidak termasuk Gerakan Lingkungan, tapi sebagian ahli menyatakan bahwa NIMBY bisa dipertimbangkan masuk pada gerakan yang berfokus pada menjaga lingkungan hidup yang berkaitan dengan kepentingan publik.

Pemerintah Amerika yaitu Departemen Pengembangan Kota dan Perumahan dalam Advisory Commission on Regulatory Barriers to Affordable Housing (1991) menyatakan bahwa NIMBY adalah rasa takut akan perubahan, baik dalam lingkungan fisik atau komposisi penduduk dari masyarakat. Kekhawatiran untuk menjaga nilai properti, melestarikan karakteristik sosial masyarakat, mempertahankan tingkat layanan, dan mengurangi dampak fiskal sering terjadi.

Marcel Boyer (2008) juga menambahkan Jenis Gerakan NIMBY berdasarkan kekhawatiran:
1.     Kekhawatiran akan kesehatan
2.     Kekhawatiran akan keselamatan
3.     Kekhawatiran akan kesejahteraan lingkungan

Gerakan NIMBY secara luas didefinisikan dalam literatur ekonomi sebagai keberatan oleh penduduk setempat terhadap penentuan sesuatu kebijakan atau pembangunan yang mereka anggap merugikan secara ekonomi atau berbahaya di lingkungan mereka (Harun Onder, 2016).

Dalam sub bab ini peneliti menyimpulkan isu Gerakan NIMBY adalah gerakan menolak pemanfaatan ruang atau penggunaan lahan yang berpotensi memperburuk kondisi lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat lokal. Kesimpulan ini telah memenuhi penentuan indikator isu gerakan NIMBY.

Terdapat beberapa pengertian Gerakan NIMBY dari beberapa ahli dalam buku-buku mereka yang mana di dalam pendapat mereka juga menyiratkan unsur gerakan NIMBY sebagai bagian dari pengertian dasar NIMBY. Definisi-definisi yang akan dipaparkan akan menjadi dasar untuk menghasilkan indikator-indikator yang akan dianalisis pada bab berikutnya.

Menurut Carol Hager (2015) dalam Bukunya NIMBY is beautiful menyatakan NIMBY itu indah karena merupakan protes masyarakat lokal yang menyoroti isu-isu kritis dan menghasilkan solusi positif yang relevan dalam skala luas. Gerakan dalam NIMBY dapat menginisiasi terbentuknya proses pembelajaran masyarakat dalam hal memahami diri warga sendiri, politik demokrasi, keahlian teknis, dan masalah framing juga dibahas, menghasilkan solusi inovatif yang dapat berfungsi sebagai model bagi orang lain. Pada akhirnya politik NIMBY sering mengarah ke perubahan yang lebih umum dalam pola hubungan masyarakat, inovasi teknologi, tata kelola perkotaan yang lebih partisipatif.

Marcel Boyer (2008) dalam jurnalnya how can the NIMBY sindrome be avoided? yang diterbitkan oleh Montreal Econimic Institute menyatakan bahwa Sindrom yang dikenal sebagai NIMBY adalah konflik yang melibatkan lokasi kebijakan yang dianggap berbahaya bagi masyarakat lokal yang ingin memperjuangkan pendirian mereka. Dalam beberapa dekade terakhir kita telah melihat pertumbuhan dan perluasan dalam gerakan NIMBY oleh pihak penolak yang terstruktur.

Fenomena Gerakan NIMBY memberi ekspresi pada prasangka masyarakat dan sikap negatif yang stereotip dalam usaha menolak sesuatu di lingkungan mereka. Lebih pada masalah psikologis dalam hal kesulitan menerima suatu perubahan. Gerakan NIMBY menggambarkan reaksi di antara penduduk lokal saat mereka mengekspresikan perlawanan terhadap sesuatu yang tidak diinginkan komunitas komunitas atau wilayah mereka. (Cowan, 2003).

Masyarakat melawan kebijakan melalui kegiatan aktivisme atau unjuk rasa, tindakan kekerasan dan kekacauan, menentang aturan yang ada, tindakan merusak bangunan, perlawanan fisik, serta tindakan hukum yang legal, (Jonathan, 2015).

Dari sub bab ini semakin ditegaskan bahwa isu gerakan NIMBY mengerucut pada 3 (tiga) kategori yaitu isu lingkungan, isu ekonomi, dan isu sosial. Peneliti juga mengambil kesimpulan  untuk dijadikan indikator bentuk Gerakan NIMBY. Gerakan NIMBY terbagi 3 (tiga) yaitu aksi legal melalui advokasi hukum, unjuk rasa, dan aksi non legal seperti aksi anarkis, penyerangan, mogok makan, dan lain-lain.

Penyebab Gerakan NIMBY
Terdapat beberapa pendapat tentang penyebab gerakan NIMBY dari beberapa ahli dalam buku-buku mereka. Penyebab-penyebab gerakan NIMBY yang akan dipaparkan akan menjadi dasar untuk menghasilkan indikator-indikator yang akan dianalisis pada bab berikutnya.

Ahli lingkungan moderen Mary Alice Haddad dan Carol Hager (2015) menyatakan NIMBY lahir karena masyarakat lokal khawatir:
1.     Kesehatan masyarakat terganggu (polusi, banjir, dan lain-lain)
2.     Mata pencaharian masyarakat terganggu
3.     Masalah lingkungan masyarakat

Wolsink (2000) menyatakan bahwa NIMBYisme adalah orang yang menggabungkan sikap positif dan penolakan dan telah memperhitungkan eksternalitas dan manfaat pribadi berdasarkan keprihatinan terhadap lingkungan dan kesehatan. Kemudian George E MC Avoy (1999) membagi karakter NIMBY dalam 3 tipe yaitu:
1.     Karakter A
  1. Emosi Masyarakat yang Berlebihan
  2. Masyarakat tidak memiliki pengetahuan terkait rencana pembangunan
  3. Masyarakat menolak tampa dukungan pembuktian ilmiah
2.     Karakter B
  1. Masyarakat tidak memiliki motivasi yang kuat dalam menolak
  2. Masyarakat terkesan egois
3.     Karakter C
Masyarakat sangat menghambat pelaksanaan kebijakan

Terdapat pula faktor penyebab NIMBY secara Individu oleh Freudenberg dan Pastor (1992):
1.     Ketidaktahuan
2.     Keegoisan
3.     Di luar Ketidaktahuan dan keegoisan
A.   Kurangnya kepercayaan masyarakat pada pemerintah pelaksana kebijakan
B.    Khawatir konsekuensi kesehatan
C.    Faktor-faktor ideologis atau demografis, dan lain-lain.

Freudenberg dan Pastor (1992) menambahkan Faktor Penyebab NIMBY secara sosial:
1.     Proses Pengambilan Keputusan
Ketidakterbukaan, ketidakadilan dan tidak dimengerti telah menyebabkan kurangnya legitimasi untuk proses partisipasi
2.     Kegagalan Respon terhadap NIMBY
Kebanyakan pemerintah hanya melihat NIMBY sebagai bukti individu hanya termotivasi untuk memaksimalkan kepentingan mereka. Padahal lebih dalam lagi.
3.     Penggunaan lahan konflik

Departemen Pengembangan Kota dan Perumahan Amerika juga dalam Advisory Commission on Regulatory Barriers to Affordable Housing (1991) menambahkan faktor-faktor penyebab NIMBY adalah:

1.     Menjaga Nilai Rumah
Masyarakat takut jika ada perubahan maka nilai rumah mereka menjadi turun
2.     Melestarikan Karakteristik Komunitas
Mereka takut kerusakan pada pemandangan indah di lingkungan mereka, ruang terbuka, dan suasana tenang desa mereka dikarenakan kehadiran lebih banyak orang, lebih banyak lalu lintas, dan perusahaan lebih komersial
3.     Khawatir Kepuasan Pelayanan Masyarakat Berkurang
Masyarakat khawatir akan pelayanan untuk masyarakat lokal berkurang. Misalnya: jalan yang sebelumnya sepi, setelah dibangun proyek menjadi padat sehingga kepuasan masyarakat harus berkurang dari sebelumnya.
4.     Mengurangi Dampak Fiskal
Kekhawatiran masyarakat terkait wajib pajak tentang implikasi fiskal pembangunan baru, terutama berkaitan dengan penyediaan infrastruktur. Selain itu, pembangunan infrastruktur dan pengeluaran terkait pertumbuhan lain kadang-kadang bersaing untuk prioritas dengan kesehatan dan kesejahteraan.
5.     Melestarikan Homogenitas
Warga masyarakat khawatir dengan masuknya anggota kelompok minoritas ras dan etnis, kadang-kadang hal ini membenarkan keberatan mereka atas kebijakan publik.

Hank Smith (2009) dalam buku Reenvolving NIMBY menyatakan faktor-faktor penyebab NIMBY ada 8 (delapan), yaitu:
1.     Kekhawatiran bahwa pembangunan proyek berpotensi berbahaya bagi kelangsungan hidup mereka.
2.     Kekhawatiran bahwa proyek akan mengurangi nilai properti
3.     Kekhawatiran bahwa proyek akan memberikan kerugian lebih besar daripada prospek positifnya
4.     Kekhawatiran bahwa proyek akan menimbulkan risiko untuk warga setempat
5.     Kekhawatiran bahwa proyek akan bahaya untuk warga setempat
6.     Belum Mengerti Manfaat Kebijakan untuk daerahnya
7.     Terdapat Kepentingan Tertentu
8.     Kekhawatiran bahwa proyek akan dampak buruk pada lingkungan
9.     Politik mempengaruhi dukungan atau penolakan masyarakat

Dalam dokumen resmi NIMBY, Removing, Barriers to Affordable Housing yang diresmikan U.S. Department of Housing and Urban Development pada tahun 1991 menyatakan bahwa penyebab NIMBY ada 5 (lima) yaitu:
1.     Menjaga Nilai Rumah
2.     Melestarikan Karakteristik Komunitas
3.     Takut Kepuasan Pelayanan Masyarakat Berkurang
4.     Mengurangi Dampak Fiskal
5.     Melestarikan Homogenitas

Sementara Kate Burningham (2006) menyatakan bahwa faktor penyebab NIMBY diantaranya:
1.     Ketidaktahuan dan kekhawatiran
2.     Keegoisan
3.     Di luar Ketidaktahuan dan keegoisan
4.     Masyarakat memahami bahwa kebijakan akan mengancam lingkungan dan kesehatan
5.     Proses Pengambilan Keputusan
6.     Kegagalan Respon terhadap NIMBY
7.     Penggunaan lahan konflik

Tidak jauh berbeda dengan Kate Burningham, Gregory E. Mcavoy (1999) menyatakan faktor penyebab NIMBY yang tidak jauh berbeda, yaitu:
1.     Emosi Berlebihan
2.     Tidak Memiliki pengetahuan
3.     Tidak Ilmiah
4.     Sempit Motivasi
5.     Keegoisan
6.     Proyek Menghambat Kebijakan barang publik

Bryan Boyer Dan Hill dalam buku Brickstarter (2014) menyatakan faktor-faktor penyebab NIMBY bisa terjadi dari:
1.     Komunikasi yang tidak bagus antar pihak, terkait budaya lokal, teknologi, dan lain-lain.
2.     Lambannya proses negosiasi dan komunikasi
3.     Pemerintah tidak aktif menerima masukan
4.     Pemerintah tidak bisa mengakomodasi diskusi atau debat pada warga dengan baik.

Konfrensi Internasional The Path to Successfully Addressing Trail Opposition  2014 California Trails and Greenways Conference Palm Springs di California menyimpulkan faktor-faktor penyebab NIMBY terjadi karena ada motivasi dalam diri masyarakat yaitu:
1.     Keinginan Menjaga lingkungan
2.     Keinginan Menjaga komunitas lokal
3.     Ketakutan akan Bahaya kemacetan
4.     Keinginan Menjaga nilai atau harga rumah atau tanah
5.     Merasa kebijakan terlalu dekat dengan rumah

Mereka biasanya memiliki sikap NIMBY karena mereka sama sekali tidak menginginkan pembangunan tertentu di 'lingkungan belakang' mereka dan bukan karena mereka berpikir bahwa 'pembangunan tersebut' itu sendiri adalah hal yang buruk atau tidak perlu. Ini biasanya berarti bahwa orang-orang yang menentang proyek akan sangat senang jika ''pembangunan tersebut' hanya ada di lingkungan orang lain (Guidotti dan Abercrombie, 2008).

Dari sub bab ini peneliti mengambil poin-poin untuk dijadikan indikator penyebab gerakan NIMBY. Pada penelitian ini penyebab gerakan NIMBY adalah:
1.     Masyarakat tidak mengetahui tentang rencana pembangunan pemerintah
2.     Masyarakat egois/tidak peduli “yang penting menolak”
3.     Masyarakat merasa terancam atau khawatir dengan dampak buruk pembangunan pemerintah
4.     Sosialisasi dan komunikasi pemerintah dan masyarakat buruk
5.     Masyarakat merasa paham dengan produk rencana pembangunan dan dampak buruknya

Penulis : Rezky Kinanda, ST., MT
silahkan diskusi ke email kitakotaindonesia@gmail.com atau instagram @kitakotaindonesia

Comments

Popular posts from this blog

KLB, KDB, GSB, GSJ ... ?

NIMBY, Positif atau Negatif ? (2)