NIMBY, Positif atau Negatif ? (2)
II.1 Dampak Gerakan NIMBY
Gerakan NIMBY tentu akan memberi dampak kepada
pihak-pihak yang terlibat baik positif maupun negatif. Terdapat beberapa
pendapat tentang dampak gerakan NIMBY dari beberapa ahli dalam buku-buku
mereka. Dampak-dampak Gerakan NIMBY yang akan dipaparkan akan menjadi dasar
untuk menghasilkan indikator-indikator yang akan dianalisis pada bab
berikutnya.
Marcel Boyer
(2013) menjelaskan mengenai dampak NIMBY:
1.
Dalam hal
lingkungan, kemenangan oleh aktivis NIMBY di satu tempat dapat membuat atau
memperburuk masalah di tempat lain
2.
Dalam infrastruktur
atau jasa, penyebaran sindrom NIMBY dapat menyebabkan keterlambatan dalam
memenuhi kebutuhan
3.
Dalam
kualitas produk kebijakan publik, karena pindah ke tempat yang tidak ada NIMBY atau
kurang mengakibatkan proyek dipindahkan ke zona tidak cocok
Carol Hager (2015) memiliki pandangan sedikit
berbeda, Carol Hager berpendapat bahwa NIMBY memiliki beberapa dampak positif
yaitu:
1.
Pembentukan jaringan partisipatif dan kelompok politik baru
2.
Teknologi ditingkatkan atau inisiatif teknologi baru
3.
Pembangunan Proyek Lingkungan yang Baik
4.
Berkontribusi untuk demokratisasi lembaga atau bahkan
perubahan rezim
Kate Burningham (2006) menyimpulkan ada
3 (tiga) dampak dari gerakan NIMBY, yaitu:
1.
Resiko
konflik, Bentrok, korban jiwa, dan lain-lain
2.
Kerugian finansial
pihak pemerintah atau swasta yang mewakili pemerintah dalam penyediaan
fasilitas yang ditolak masyarakat
3.
Membatalkan
perencanaan pemerintah
II.4.1 Dampak Gerakan NIMBY Terhadap Tata
Kelola Perkotaan
Dari
Kajian literatur di atas teridentifikasi indikator dampak Gerakan NIMBY
terhadap bidang tata kelola perkotaan atau perencanaan wilayah dan kota secara
umum. Berikut dampak gerakan NIMBY tersebut berdasarkan kajian literatur.
II.4.1.1 Dampak Positif Gerakan NIMBY Terhadap
Tata Kelola Perkotaan
Teridentifikasi
bahwa gerakan NIMBY dapat membawa dampak positif bagi bidang tata kelola
perkotaan atau perencanaan wilayah dan kota secara umum yaitu:
1.
Komunikasi antara Pemerintah Pelaksana Kebijakan dan Masyarakat
Semakin Baik
Dari
kajian teori diatas diidentifikasi bahwa gerakan NIMBY bisa membawa perubahan
positif pada komunikasi antara pemerintah dan masyarakat yang mana ini
merupakan keuntungan bagi pemerintah pelaksana kebijakan baik Pemerintah Pusat,
Provinsi, Kabupaten ataupun Kota. Jika dampak positif ini bisa diraih maka
pelaksana kebijakan berkesempatan untuk memperlancar pembangunan atau
pemanfaatan ruang yang sempat terhambat.
2.
Terdapat Pembelajaran dan Solusi Baru
Dengan
adanya Gerakan NIMBY pelaksana kebijakan mendapat banyak masukan terkait
pembelajaran dan solusi baru dari permasalahan pelaksanaan pembangunan atau
pemanfaatan ruang. Baik dari segi teknologi baru maupun solusi lain yang dapat
memenuhi amanat peraturan resmi untuk melaksanakan pembangunan atau pemanfaatan
ruang. Solusi baru yang dihasilkan oleh gerakan NIMBY adalah solusi yang bisa
diterima oleh semua pihak yang berinteraksi dalam gerakan NIMBY.
II.4.1.2 Dampak Negatif Gerakan NIMBY Terhadap
Tata Kelola Perkotaan
Teridentifikasi
bahwa gerakan NIMBY dapat membawa dampak negatif bagi bidang tata kelola
perkotaan atau perencanaan wilayah dan kota secara umum yaitu:
1.
Pemerintah Mengalami Kerugian Finansial
Kerugian
yang diderita pelaksana kebijakan bisa didapatkan dari terlambatnya proses
pelaksanaan pembangunan atau pemanfaatan ruang. Sumber kerugian finansial lain
bisa didapat dari kegiatan penolakan masyarakat yang memungkan melakukan
perusakan fisik bangunan milik pemerintah pelaksana kebijakan
2.
Pelaksanaan Pembangunan Terhambat/Tertunda/Batal
Pelaksanaan
pembangunan dan pemanfaatan ruang yang telah diamanatkan oleh peraturan resmi
tentu harus dilaksanakan sesuai waktu yang telah ditentukan. Hal ini sesuai
dengan perencanaan yang telah diperhitungkan sebelumnya. Apabila implementasi
kebijakan tidak tercapai tepat waktu tentu ada kerugian yang diderita oleh
pemerintah pelaksana kebijakan.
II.4.2 Dampak Gerakan NIMBY Terhadap
Masyarakat
Dari
Kajian literatur di atas teridentifikasi indikator dampak Gerakan NIMBY
terhadap masyarakat. Berikut dampak gerakan NIMBY terhadap masyarakat
berdasarkan kajian literatur.
II.4.2.1 Dampak Positif Gerakan NIMBY Terhadap
Masyarakat
Teridentifikasi
bahwa gerakan NIMBY dapat membawa dampak positif bagi masyarakat yaitu:
1.
Terdapat Pembelajaran dan Solusi Baru
Dari
gerakan NIMBY yang dilakukan oleh masyarakat lokal terdapat kemungkinan dampak
positif yang bisa diraih yaitu pembelajaran dan solusi baru. Pembelajaran dan
solusi baru ini akan berdampak baik pada masyarakat secara umum.
2.
Komunikasi Antara Pemerintah Pelaksana Kebijakan dan
Masyarakat Semakin Baik
Dampak
positif ini juga bisa dirasakan oleh pemerintah pelaksana kebijakan seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya. Komunikasi yang baik ini tentu merupakan
dampak positif juga bagi masyarakat lokal guna mendapatkan kesepakatan yang
bisa diterima masyarakat
II.4.2.2 Dampak Negatif Gerakan NIMBY Terhadap
Masyarakat Lokal
Teridentifikasi
bahwa gerakan NIMBY dapat membawa dampak positif bagi masyarakat yaitu:
1.
Terjadi Bentrok/Permusuhan di Masyarakat
Gerakan
NIMBY bisa saja menghasilkan perbedaan pendapat dan kepentingan yang besar di
masyarakat, hal ini bisa memicu lahirnya konflik. Konflik inilah yang akan
menjadi kerugian sosial bagi masyarakat.
2.
Terdapat Aksi Anarkis dan Korban Jiwa
Aksi
anarkis dari gerakan NIMBY sangat berbahaya bagi masyarakat. Aksi yang sangat
berbahaya juga berpotensi menimbulkan korban jiwa.
3.
Masyarakat Mengalami Kerugian Finansial
Dalam
hal ini kerugian finansial bagi masyarakat adalah berasal dari
kegiatan-kegiatan yang bisa saja merugikan masyarakat secara finansial.
II.2 Aktor-Aktor yang Terlibat Gerakan NIMBY
Terdapat beberapa pendapat tentang aktor-aktor yang
terlibat gerakan NIMBY dari beberapa ahli dalam buku-buku mereka. Aktor-aktor
yang terlibat gerakan NIMBY yang akan dipaparkan akan menjadi dasar untuk
menghasilkan indikator-indikator yang akan dianalisis pada bab berikutnya.
Mary
Alice Haddad dan Carol Hager (2015) menyimpulkan aktor gerakan NIMBY yang
terlibat adalah:
1.
Tokoh
Agama, Tokoh Adat
2.
Pejabat
Politik Lokal
3.
Wartawan
(media)
4.
Masyarakat
Setempat
Sebagian besar pendapat dari literatur yang
peneliti ambil pendapatnya dalam penelitian ini hanya membagi aktor menjadi 2
yaitu oposisi yang bisa terdiri dari masyarakat umum, akademisi, tokoh
masyarakat, dan media. Sedangkan di kubu lain adalah pemerintah dan pelaksana
proyek.
Dari sub
bab ini peneliti mengambil aktor-aktor untuk dijadikan indikator aktor gerakan NIMBY.
Pada penelitian ini diputuskan aktor-aktor yang menjadi indikator berdasarkan
kajian teori yaitu Pemerintah Kota dan jajarannya selaku pelaksana pembangunan,
masyarakat lokal, komunitas luar, para ahli, media, dan kemungkinan
keterlibatan aktor lain.
II.3 Proses Gerakan NIMBY
Terdapat beberapa pendapat tentang proses gerakan NIMBY
dari beberapa ahli dalam buku-buku mereka. Proses gerakan NIMBY yang akan
dipaparkan akan menjadi dasar untuk menganalisis proses gerakan NIMBY yang
terjadi di wilayah kajian.
Kate
Burningham (2006) menjelaskan bagaimana tahapan-tahapan proses dari sebelum NIMBY
lahir di masyarakat sampai aksi penolakan terjadi:
1.
Penduduk awalnya mencari informasi tentang Kebijakan
Pemerintah yang dilaksanakan di daerah mereka
2.
Lalu masyarakat mempertanyakan pada pejabat bukan dalam
bentuk penolakan
3.
Namun warga gagal untuk menerima jawaban yang dapat memenuhi
kebutuhan pengetahuan mereka atau merasa terancam dengan produk rencana
tersebut berdasarkan jawaban dari pemerintah.
4.
Kemudian aksi penolakan terjadi
Clare
Sounder (2013) turut menjabarkan proses Gerakan NIMBY yaitu:
1.
Kebijakan
Publik atau produk pemerintah dilaksanakan di suatu daerah
2.
Kemudian
Muncul Gerakan NIMBY dari masyarakat di lokasi kebijakan dilaksanakan
3.
Kelompok NIMBY
memiliki motif utama yaitu untuk menolak LULU dibangun di daerah mereka, bahkan
ada yang bermotif agar LULU di bangun di daerah orang agar daerahnya aman.
4.
Kemudian
Koneksi/link kenalan/pertemanan menjadi modal NIMBY dalam
gerakannya/kampanyenya.
Marcel
Boyer (2013) menjelaskan bagaimana tahapan-tahapan proses setelah NIMBY lahir
di masyarakat:
1.
Berawal
dari penolakan masyarakat terhadap produk perencanaan pemerintah sehingga
lahirlah NIMBY
2.
Kemudian
Pemerintah merespon dengan cara yang tidak bisa diterima dengan baik oleh
masyarakat atau terkesan memaksa
3.
Sehingga masyarakat frustasi lalu melakukan aksi
resistensi (penolakan)
Marcel
Bowyer (2013) juga menjelaskan jika respon terhadap NIMBY dilakukan melalui
proses yang baik:
1.
Berawal
dari penolakan masyarakat terhadap produk perencanaan pemerintah sehingga
lahirlah NIMBY
2.
Kemudian
Pemerintah merespon dengan Kebijakan yang bisa diterima dengan baik oleh
masyarakat dengan kebijakan teknis yang baik.
3.
Pemerintah
menerima pemberian masukan teknologi baru dari pelaku NIMBY (di beberapa kasus)
4.
Alternatif
lain pun bisa terlaksana seperti misalnya, pemerintah membuka peluang membuat
teknologi baru.
Clare
Sounder (2013) menyatakan dalam proses gerakan NIMBY:
1.
Pelaku gerakan NIMBY memulai dengan belajar tentang isu-isu
dan kontroversi seputar khususnya “penggunaan lahan secara lokal yang tidak
diinginkan” LULU.
2.
Kemudian kelompok NIMBY biasanya akan menyadari isu masalah
bisa sangat luas, sehingga mereka terus belajar dan mencari informasi agar bisa
menang.
3.
Kemudian terdapat isu lain yang muncul yaitu NIABY (not in anybody backyard), dari yang
awalnya antara lokal grub berkompetisi agar LULU tidak dibangun di daerah
mereka menjadi mendukung bahwa LULU tidak dibangun di antara mereka atau tidak
dibangun dimanapun.
Secara
umum berdasarkan kajian teori, gerakan nimby akan berproses sebagai berikut :
1.
Publikasi produk
rencana
2.
Pihak pelaksana produk
rencana melakukan sosialisasi
3.
Masyarakat mengetahui
produk rencana
4.
Masyarakat melakukan
penolakan atau konflik dimulai
5.
Pihak pelaksana gagal
merespon masyarakat
6.
Gerakan penolakan berlanjut
7.
Kebijakan tertunda atau dibatalkan
Dari sub
bab ini peneliti akan mengidentifikasi proses gerakan NIMBY berdasarkan kajian
teori adapun pada bab selanjutnya akan dilakukan analisis proses gerakan NIMBY yang
terjadi di wilayah kajian. Perbandingan proses akan dilihat apakah proses yang
terjadi di wilayah kajian menyerupai apa yang telah dijelaskan para ahli atau
terdapat temuan-temuan baru pada proses gerakan NIMBY.
II.4 Solusi Tata Kelola Perkotaan Terhadap Gerakan NIMBY
Terdapat beberapa pendapat tentang solusi tata
kelola perkotaan dalam merespon gerakan NIMBY dari beberapa ahli dalam
buku-buku mereka. Solusi-solusi dalam merespon gerakan NIMBY yang akan
dipaparkan akan menjadi salah satu dasar untuk dijadikan rekomendasi pada bab terakhir.
Marcel
Boyer (2013) menjelaskan tentang solusi
yang dapat ditempuh pemerintah yaitu:
1. Analisis
sosial ekonomi yang berorientasi pada nilai ekonomi swasta dan keuntungan
masyarakat seperti negosiasi ganti rugi.
2. Mengidentifikasi
sejumlah lokasi potensial. Pemindahan lokasi
bisa menjadi salah satu alternatif ketika tidak ada kesepakatan yang bisa
diraih.
3. Negosiasi
kompensasi yang dalam hal ini pemerintah pelaksana kebijakan harus mengeluarkan
dana lebih
Hank
Smith (2014) memberikan masukan secara umum sebelum merespon NIMBY:
1.
Memperhatikan
aspek demografis, termasuk jenis kelamin dan status minoritas
2.
“LULU”
tersebut harus dibangun dekat dengan rute transportasi
3.
Fasilitas
pendukung dari LULU harus diperhatilkan
4.
Upaya
peningkatan kepercayaan terhadap pemerintah pelaksana kebijakan
5.
Politik
dan Keberpihakan harus sesuai aturan dan ilmiah
6.
Kesamaan
pemahaam aktor terkait kesadaran lingkungan
Kate
Burningham (2006) menyatakan ada beberapa solusi yang bisa ditepuh untuk
merespon gerakan NIMBY, yaitu:
1.
Kompensasi
untuk mengurangi biaya lokal (biaya yang dikeluarkan masyarakat)
2.
Berbagi
keuntungan finansial
3.
Teknologi
agar dampak negatif bisa minimal
4.
Strategi
lokasi
5.
Istilah 'solusi'
otoriter lebih cenderung memperburuk daripada memecahkan masalah
6.
Memperbesar
keterlibatan masyarakat
Secara
umum berdasarkan kajian teori gerakan NIMBY, terdapat solusi-solusi sebagai
berikut :
1.
Solusi teknis dengan teknologi
baru
2.
Solusi ekonomis dengan
negosiasi kompensasi atau ganti rugi
3.
Solusi secara lokasi
dengan pemindahan produk rencana
Dari sub
bab ini peneliti mengambil hal-hal untuk dijadikan bahan rekomendasi untuk
merespon gerakan NIMBY yang akan menyesuaikan dengan analisis di wilayah
kajian. Adapun penelitian ini tidak menjadikan solusi sebagai indikator
analisis dikarenakan solusi-solusi yang dijelaskan para ahli akan diadikan
rekomendasi pada bab VI penutup yang akan menyesuaikan dengan hasil analisis.
II.5 Manajemen Konflik Dalam Gerakan NIMBY
Gerakan
NIMBY telah diakui banyak ahli akan melahirkan konflik. Maka dari itu
penelitian ini akan memperdalam analisis pada titik konflik seperti yang telah
dijelaskan pada Bab I. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa
penelitian ini akan menggunakan pendekatan manajemen konflik sebagai alat
analisis.
Menurut
Fisher (2001) tidak ada satu kelompok masyarakat pun yang tidak pernah
mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya,
konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bisa terjadi karena hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau
kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki tujuan-tujuan yang tidak sejalan.
Menurut
Ross (1993) bahwa manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para
pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil
tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa
penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan,
hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif. Manajemen konflik dapat
melibatkan bantuan diri sendiri, kerjasama dalam memecahkan masalah (dengan
atau tanpa bantuan pihak ketiga) atau pengambilan keputusan oleh pihak ketiga.
Suatu pendekatan yang berorientasi pada proses manajemen konflik menunjuk pada
pola komunikasi (termasuk perilaku) para pelaku dan bagaimana mereka mempengaruhi
kepentingan dan penafsiran terhadap konflik.
Fisher
dkk (2001) menggunakan istilah transformasi konflik secara lebih umum dalam
menggambarkan situasi secara keseluruhan.
1.
Pencegahan Konflik, bertujuan untuk mencegah timbulnya
konflik yang keras.
2.
Penyelesaian Konflik, bertujuan untuk mengakhiri perilaku
kekerasan melalui persetujuan damai.
3.
Pengelolaan Konflik, bertujuan untuk membatasi dan
menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku positif bagi
pihak-pihak yang terlibat.
4.
Resolusi Konflik, menangani sebab-sebab konflik dan berusaha
membangun hubungan baru dan yang bisa tahan lama diantara kelompok-kelompok
yang bermusuhan.
5.
Transformasi Konflik, mengatasi sumber-sumber konflik sosial
dan politik yang lebih luas dan berusaha mengubah kekuatan negatif dari
peperangan menjadi kekuatan sosial dan politik yang positif.
Comments
Post a Comment